Minggu, 09 Oktober 2011

SUARA HATI SEORANG SUAMI


Istriku, setelah sekian lama kita bersama dalam senyum dan tawa juga tangis dan duka, perlu rasanya kembali kita membuka kembali lembaran komitmen kita bersama. Untuk meneguhkan cinta memupuk asa dan membangkitkan gelora belahan jiwa. Menyatukan kembali ceceran sayang dan merajut kasih yang sempat tersisih di saat letih. Bukan pembenaran atau bukan penyalahan. Bukan hanya aku atau kamu, tetapi kita. Demi cinta cita, demi sayang kita. Dan demi keluarga kita.

Istriku, mungkin aku bukan suami sejati sebagai pujaan hatimu. Tetapi aku berusaha menjadi lelaki pendamping hidupmu dan ayah bagi permata buah hati kita. Menjadi matahari siang hari, bulan dikala malam dan bintang ketika berlaya. Menjadi bumi tempat berpijak menempatkan jiwa dan raga, menjadi langit cita-cita kehidupan. Menjadi air pelepas dahaga penyegar jiwa, menjadi api yang menggelorakan semangat asmara.

Istriku, aku berusaha selalu hadir dan menjagamu disaat tidurmu. Mendampingimu dari samping dan belakang saat kau terjaga. Menunggu dan terus berharap dikala engkau tak disisiku. Berdoa dan menemanimu ketika sakit. Menyeka airmatamu ketika duka lara mengundang tangis, dan tersenyum dikala bahagis tersirat di wajahmu.

Istriku, mungkin kamu tidak tahu betapa sakit perihnya hatiku melihatmu tak bahagia. Aku merasa bersalah tatkala kamu marah, kamu gundah. Aku menjadi serba salah melihatmu gelisah. Hatiku hancur ketika melihatmu murung dan senyummu hilang dari bibirmu. Aku ingin kamu selalu berbinar secerah pagi. Aku ingin kamu gembira seterang siang. Aku ingin kamu tertawa seperti gemerlapnya bulan bintang.

Istriku, berulang kali aku katakan kepadamu. Aku memaafkan apapun kesalahanmu yang dahulu, sekarang dan yang akan datang jika memang ada. Aku memahami dan mengerti apa yang belum kamu ucapkan. Aku berusaha menerima kekuranganmu dan terberkahi dengan kelebihanmu. Dan aku akan menyayangimu sampai kita terpisahkan oleh sang waktu. Aku berusaha untuk itu.

Istriku, aku minta maaf karena menjadi suami yang tidak sempurna. Tidak mampu mencukupi hasrat dan kehendakmu. Tetapi tali kasih ini masih ada, sayang!. Kita masih bisa bersama, jika engkau berkenan. Masih ada waktu dan kesempatan. Aku tahu kamu masih sayang padaku. Engkau masih cinta keluarga kita. Itu terlihat dari wajahmu, tersirat dalam hatimu.
Istriku,  selamat tidur sayang! Aku akan menjagamu. Selalu!

Tidak ada komentar: